PUPUS
Jam dinding
sudah berdentang dua kali. Setengah malam telah terlewati. Sri masih duduk
tepekur disudut kamar. Matanya sembab. Ia belum memejamkan mata. Ia beringsut
ke depan cermin yang menempel di dinding kamar.
Berdirilah Ia didepan cermin itu. Dilihatnya
seorang wanita yang begitu rapuh dengan mata yang sembab dan muka yang kusut.
Air mata kembali mengalir dari pipinya. Ia merasakan sakit yang begitu
mendalam. Sri teringat kejadian tadi siang ketika Rio meninggalkannya dan memilih Susanti,
wanita kaya yang tampak angkuh itu. Setelah 5 tahun menjalin cinta Sri tak
menyangka Rio akan meinggalkannya begitu saja.
Rio : Apa
kabar dik Sri
Sri : Baik
mas, ada apa to ini kok tiba-tiba ngajak ketemu?
Rio :
Sebelumnya mas minta maaf dik. Tapi mas harus mengatakan ini. Sebenarnya mas
sudah ndak cinta lagi sama dik Sri, jadi kita sampai disini saja
Sri :
sudahlah mas ndak lucu
Rio : dik
ini serius, mas sudah ndak bisa lagi dik. Maaf mas harus pergi
Sri : lho
mas tunggu mas...
Masih ia ingat kata-kata terakhir yang diucapkan
Rio padanya. Ia masih bertanya-tanya mengapa Rio meninggalkannya tanpa alasan.
Sri kembali ke tempat tidurnya dan mencoba tidur
Keesokan harinya Sri mencoba mencari Rio ke
kontrakannya, namun tetangga mengatakan bahwa Rio sudah pindah satu minggu yang
lalu. Sri mencoba menelepon namun tidak aktif. Ia semakin geram tapi Sri tak
pantang menyerah mencari cintanya. Seharian Ia mencari kesana kemari tanpa hasil. Hampir saja air mata menetes, namun segera Ia
menyekanya. Sri tersadar ada suatu tempat yang harus Ia datangi untuk mencari
jawaban mengapa Rio meningalkannya.
Hari berikutnya Sri pergi ke tempat Rio bekerja.
Disana Ia bertemu Putra, teman akrab Rio.
Sri :
mas Putra tau mas rio ndak? Saya sudah kesana kemari mencari tapi belum ketemu
mas
Putra : oh
Rio ya. Saya ndak tau Sri
Sri :
saya minta tolong sekali mas. Saya ndak tau lagi harus kemana mencari mas Rio
Putra :
sebelumnya saya minta maaf Sri, tapi hari ini Rio tidak masuk kerja. Ia sedang
menyiapkan pesta pernikahannya
Sri :
apa mas pernikahan? Jadi mas Rio meninggalkan saya karena wanita lain mas. Ya
Allah apa salah saya ini mas
Malamnya Sri tak bisa tidur lagi. Ia masih
memikirkan perkataan Putra. Apa benar Rio menikah? Lalu dengan siapa? Dan mengapa?
Malam itu Sri benar-benar terpuruk. Perasaannya campur
aduk antara sedih, kecewa, marah dan bingung. Semalaman ia menangis merenungi
takdirnya.
Keesokan harinya Sri berniat menemui Putra kembali
untuk mencari informasi yang lebih banyak. Setelah mengetahui crita sebenarnya
dari Putra, Sri pulang dengan rasa kecewa yang mendalam.
Setibanya dirumah Ia tak tahu harus berbuat apa. Lelaki
yang sudah Ia perjuangkan 5 tahun rela meninggalkannya demi harta dan
kekuasaan.
Putra :
jadi putri direktur itu suka sama Rio, nah kalau Rio mau menikah dengannya
pangkatnya naik Sri, gajinya juga nambah.ya kalau sudah begitu siapa yang nolak
to Sri..
Kata-kata itu yang akan selalu diingat oleh Sri.
Setelah mengetahui semuanya, tidak ada lagi alasan
bagi Sri untuk mengejar cintanya. Kini Sri hanya menjalani hidup sebagaimana
mestinya. Seperti air yang akan terus
menemukan dimana ia akan bermuara.
Bagus imajinasinya: orisinal. Mbak, penulisan dialog sudah tidak menggunakan titik dua (:) lagi. Baca novel-novel modern!
BalasHapus