Selasa, 17 Februari 2015

cerpen

PUPUS
Jam dinding sudah berdentang dua kali. Setengah malam telah terlewati. Sri masih duduk tepekur disudut kamar. Matanya sembab. Ia belum memejamkan mata. Ia beringsut ke depan cermin yang menempel di dinding kamar.
Berdirilah Ia didepan cermin itu. Dilihatnya seorang wanita yang begitu rapuh dengan mata yang sembab dan muka yang kusut. Air mata kembali mengalir dari pipinya. Ia merasakan sakit yang begitu mendalam. Sri teringat kejadian tadi siang ketika  Rio meninggalkannya dan memilih Susanti, wanita kaya yang tampak angkuh itu. Setelah 5 tahun menjalin cinta Sri tak menyangka Rio akan meinggalkannya begitu saja.
Rio  : Apa kabar dik Sri
Sri  : Baik mas, ada apa to ini kok tiba-tiba ngajak ketemu?
Rio  : Sebelumnya mas minta maaf dik. Tapi mas harus mengatakan ini. Sebenarnya mas sudah ndak cinta lagi sama dik Sri, jadi kita sampai disini saja
Sri  : sudahlah mas ndak lucu
Rio  : dik ini serius, mas sudah ndak bisa lagi dik. Maaf mas harus pergi
Sri  : lho mas tunggu mas...
Masih ia ingat kata-kata terakhir yang diucapkan Rio padanya. Ia masih bertanya-tanya mengapa Rio meninggalkannya tanpa alasan. Sri kembali ke tempat tidurnya dan mencoba tidur
Keesokan harinya Sri mencoba mencari Rio ke kontrakannya, namun tetangga mengatakan bahwa Rio sudah pindah satu minggu yang lalu. Sri mencoba menelepon namun tidak aktif. Ia semakin geram tapi Sri tak pantang menyerah mencari cintanya. Seharian  Ia mencari kesana kemari tanpa hasil.  Hampir saja air mata menetes, namun segera Ia menyekanya. Sri tersadar ada suatu tempat yang harus Ia datangi untuk mencari jawaban mengapa Rio meningalkannya.
Hari berikutnya Sri pergi ke tempat Rio bekerja. Disana Ia bertemu Putra, teman akrab Rio.
Sri     : mas Putra tau mas rio ndak? Saya sudah kesana kemari mencari tapi belum ketemu mas
Putra  : oh Rio ya. Saya ndak tau Sri
Sri     : saya minta tolong sekali mas. Saya ndak tau lagi harus kemana mencari mas Rio
Putra  : sebelumnya saya minta maaf Sri, tapi hari ini Rio tidak masuk kerja. Ia sedang menyiapkan pesta pernikahannya
Sri     : apa mas pernikahan? Jadi mas Rio meninggalkan saya karena wanita lain mas. Ya Allah apa salah saya ini mas
Malamnya Sri tak bisa tidur lagi. Ia masih memikirkan perkataan Putra. Apa benar Rio menikah? Lalu dengan siapa? Dan mengapa?
Malam itu Sri benar-benar terpuruk. Perasaannya campur aduk antara sedih, kecewa, marah dan bingung. Semalaman ia menangis merenungi takdirnya.
Keesokan harinya Sri berniat menemui Putra kembali untuk mencari informasi yang lebih banyak. Setelah mengetahui crita sebenarnya dari Putra, Sri pulang dengan rasa kecewa yang mendalam.
Setibanya dirumah Ia tak tahu harus berbuat apa. Lelaki yang sudah Ia perjuangkan 5 tahun rela meninggalkannya demi harta dan kekuasaan.
Putra  : jadi putri direktur itu suka sama Rio, nah kalau Rio mau menikah dengannya pangkatnya naik Sri, gajinya juga nambah.ya kalau sudah begitu siapa yang nolak to Sri..
Kata-kata itu yang akan selalu diingat oleh Sri.
Setelah mengetahui semuanya, tidak ada lagi alasan bagi Sri untuk mengejar cintanya. Kini Sri hanya menjalani hidup sebagaimana mestinya. Seperti air yang akan  terus menemukan dimana ia akan bermuara.   


    

puisiku


GURUKU
Setiap hari kau sambut aku dengan senyuman
Sapa hangat penuh semangat
Kau beri aku semangat
Kau beri aku nasihat
Kau beri aku ilmu
Kemana kita akan menuju
Untuk menata masa depanku
Tak terjangkau tinggi kesabaranmu
Tak terbalas semua jasamu
Terimakasih guruku

Jumat, 06 Februari 2015

TTM (Tuhan Telah Memanggilmu)


Parafrase ”Tuhan Telah Memanggilmu”
Tuhan telah mengingatkan umatnya dengan baik dan dengan berbagai cara. Melalui anak-anak miskin yang kelaparan, dan melalui suara adzan. Namun, manusia tidak pernah menghiraukan. 
Tuhan kembali mengingatkan pada umatnya. Namun cara kali ini berbeda yaitu dengan bencana-bencana seperti gempa bumi yang sangat dahsyat, angin puting yang kencang, hujan deras yang mengakibatkan banjir yang menghanyutkan dan merusak segalanya. Semua kejadian itu terjadi karena Tuhan selalu mengingatkan umatnya agar tidak terjatuh pada jalan yang salah. 
Namun, apakah umat manusia mau mendengar dan mengerti akan peringatan Tuhan yang begitu besar??

Senin, 25 Agustus 2014

Peringatan HUT Republik Indonesia di Tidar

        Minggu, 24 Agustus 2014 warga Tidar Campur, Kelurahan Tidar Selatan,  Kecamatan Magelang Selatan menggelar acara jalan santai dan berbagai lomba menarik untuk memeriahkan peringatan hari Kemerdakaan yang ke 69. Acara tersebut dimulai pada pukul 07.30 WIB yang diawali dengan jalan santai dengan berbagai doorprise yang menarik. Kemudian pada pukul 13.00 dilanjutkan dengan lomba lomba. Diantaranya lomba balap karung, lomba merias wajah, lomba  mengambil koin, dan yang paling menarik adalah lomba panjat pisang. Lomba balap karung sendiri dibagi dalam 3 kategori yaitu, kategori orang gendut, kategori remaja, dan kategori orang tua. Sedangkan lomba merias wajah yaitu dengan peserta pasangan suami istri. Dengan di tutup mata para istri harus merias suami dengan sebaik mungkin.




       Lomba panjat pisang ini merupakan lomba berpasangan dimana peserta harus memanjat pohon pisang yang sudah dilumuri oli hingga menyentuh kayu dibagian atas. Hadiah utama pada lomba ini adalah uang senilai Rp.500.000.

       Acara ini berlangsung sangat meriah dari awal sampai akhir acara.Para warga sangat antusias terutama saat menyaksikan lomba panjat pisang dan lomba merias wajah. 



     

 Serangkaian acara tersebut selesai pada pukul 17.30 yang diakhiri dengan pengundian doorprise.